Jangan Katakan 8 Hal Ini Pada Anak Anda

“pemutih

obat jerawat ampuh klick di sini

Cara mendidik anak salah satunya melalui lisan, melalui lisan nasihat dan larangan tersampaikan. Namun sayang, banyak orang tua khususnya ibu, yang belum memahami pentingnya menjaga dan memilih kata-kata yang terucap di depan anak. Kata-kata yang terucap dapat berpengaruh pada perkembangan diri, psikologis, dan konsep diri anak.
Di bawah ini ada 8 hal yang sebaiknya tidak dikatakan kepada anak, terutama kepada anak berusia di bawah tujuh tahun:

1. Mengatakan Pernyataan Negatif tentang Diri Anak
“Kamu anak nakal!”
“Kamu pemalas!”
“Kamu anak pelit!”
“Kamu anak bodoh!”

Contoh pernyataan negatif tersebut dapat menyakiti perasaan anak-anak. Mereka akan menjadi seperti yang orang tua mereka katakan. Sungguh berbahaya, mengingat kata-kata seorang ibu bisa berarti doa untuk anak-anaknya.

Katakanlah hal-hal positif kepada anak. Misalnya jika anak menerima nilai buruk, jangan mengatakan, “Kamu anak bodoh!”; Katakanlah sesuatu yang lain. Sebagai contoh, katakanlah, “Jika kamu belajar lebih baik, kamu akan mendapatkan nilai yang lebih baik karena kamu sebetulnya adalah anak pintar.” Bukankah kata-kata seperti ini akan lebih menenangkan hati anak kita?

jangan-ya-nak

Kata “Jangan” dalam Parenting Nabawiyah via http://littlemuslimschool.com/?p=44

2. Jangan katakan “Jangan Ganggu, Ibu lagi Sibuk!”
Kata-kata tersebut terdengar sangat normal. Seorang ibu sibuk memasak di rumahnya. Atau ayah sibuk membaca berita menarik di koran. Atau mungkin juga melanjutkan tugas yang dibawa dari kantor. Lalu ia mengunci diri di kamarnya. Tiba-tiba anak datang dan meminta dia untuk sebuah bantuan. Dalam situasi yang ketat, orang tua dapat berteriak pada anak itu, “Jangan ganggu! Ayah/Ibu lagi sibuk! ”

Menurut seorang penulis yang juga seorang pelatih bela diri verbal, Suzette Haden Elgin PhD, jika orang tua bertindak seperti itu, anak-anak mungkin merasa tidak berarti karena jika mereka meminta sesuatu pada orang tua mereka, mereka akan diberitahu untuk pergi.
Coba bayangkan, jika sikap seperti itu diterapkan pada anak-anak kita, maka sampai mereka tumbuh dewasa, kemungkinan besar mereka akan merasa tidak ada gunanya berbicara dengan orangtua.

Jika memang sedang benar-benar sibuk, cobalah alihkan perhatian anak-anak untuk melakukan kegiatan lain sebelum kita membantu mereka. Misalnya, jika mereka meminta bantuan dalam melakukan pekerjaan rumah mereka dan kondisinya kita sedang benar-benar sibuk, mintalah mereka untuk melakukan aktivitas lain terlebih dahulu seperti bermain atau nonton tv. Jika kesibukan sudah berlalu, datangilah anak anda dan tanyakan dengan lembut bantuan apa yang mereka perlukan.

3. Jangan katakan “Jangan Menangis!”
Ketika anak-anak menangis atau bersedih ketika bertengkar dengan teman-temannya. Tidak perlu untuk memarahi atau meminta anak-anak anda untuk tidak cengeng. Banyak anak yang mengalami hal tersebut, orang tua mengatakan pada mereka, “Jangan cengeng!”, “Jangan sedih!”, “Jangan takut!”

Menurut seorang psikolog anak, Debbie Glasser, mengatakan kata-kata tersebut akan mengajarkan anak-anak bahwa perasaan sedih adalah sesuatu hal yang tidak umum, bahwa menangis bukanlah hal yang baik, padahal menangis adalah merupakan ekspresi dari emosi tertentu yang setiap manusia miliki.

Untuk menanggapinya, akan lebih baik untuk meminta anak-anak menjelaskan apa yang membuat mereka sedih. Jika mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh teman-teman mereka, jelaskan pada mereka bahwa perilaku teman-teman mereka adalah tidak baik, jangan dicontoh.
Dengan memberikan penjelasan seperti itu orang tua telah memberikan mereka pelajaran empati. Anak-anak yang menangis akan segera menghentikan atau setidaknya mengurangi tangisan mereka.

4. Jangan Membanding-bandingkan Anak
“Lihatlah temanmu, dia bisa melakukannya dengan cepat. Mengapa kamu tidak bisa melakukannya juga?”
“Temanmu bisa menggambar dengan bagus, kenapa kamu tidak?”
“Dulu ketika kecil ibu bisa begini begitu, masa kamu tidak bisa?!”
Membanding-bandingkan hanya akan membuat anak anda merasa bingung dan menjadi kurang percaya diri. Anak-anak bahkan mungkin membenci orang tua mereka karena mereka selalu mendapatkan penilaian buruk dari perbandingan tersebut, sedangkan perkembangan setiap anak berbeda.

Daripada membandingkan, orang tua sebaiknya membantu untuk menyelesaikan persoalannya. Misalnya, ketika anak mengalami masalah mengenakan pakaian mereka sementara teman atau tetangganya yang seusia dengannya bisa melakukannya lebih cepat, orang tua harus membantu mereka untuk melakukannya secara benar.

5. Jangan katakan “Tunggu Ayah Pulang! Biar kamu dihukum ayah”
Adakalanya seorang ibu berada di rumah bersama anak-anaknya sementara ayah tidak berada di rumah. Ketika anak melakukan kesalahan, ibu tidak segera memberitahu anak-anak tentang kesalahan yang mereka buat. Si ibu hanya mengatakan, “Tunggu sampai ayahmu pulang.” Ini berarti menunggu sampai ayahnya yang akan menghukum nanti.

Menunda mengatakan kesalahan hanya akan memperburuk keadaan. Ada kemungkinan bahwa ketika seorang ibu menceritakan kembali kesalahan yang dilakukan anak-anak mereka, ibu malah membesar-besarkan sehingga anak-anak menerima hukuman yang lebih dari seharusnya.
Ada kemungkinan juga orang tua menjadi lupa kesalahan anak-anak mereka, sehingga kesalahan yang seharusnya dikoreksi terabaikan. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk tidak menunda dalam mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak-anak sebelum menjadi lupa sama sekali, dan koreksilah dengan cara bijaksana melalui nasihat yang bijak.

6. Jangan Terlalu Mudah dan Berlebihan Memberi Pujian
Memberikan pujian dengan mudah juga bukan hal yang baik. Memberikan pujian dengan mudah akan terkesan “murah”. Oleh karena itu jika seorang anak melakukan sesuatu yang sederhana, tidak perlu memuji dengan “Kamu Hebat! Luar Biasa!” Karena anak secara alamiah akan mengetahui hal-hal yang dia lakukan dengan biasa-biasa saja atau luar biasa.
Pujilah sikap anak kita, dan jangan memuji dirinya atau hasil perbuatannya. Sekiranya ia mendapat hasil bagus di sekolah, pujilah “Alhamdulillaah, Ibu bangga dengan kerja keras kamu sehingga kamu mendapat nilai baik!”

Jika kita memuji hasil yang dilakukan anak dan bukan sikapnya, sangat mungkin anak kita akan berfokus pada hasil dan tidak peduli dengan sikap/ karakter yang baik, misalnya… demi mendapat nilai ujian bagus, anak akan mencontek ketika ujian.

7. Jangan Katakan “Kamu tidak pernah..” atau “Kamu Selalu..”
Kalimat lain yang tidak perlu dilontarkan adalah “Kamu selalu….” atau “Kamu tidak pernah…”.

Kalimat tersebut kadang refleks diucapkan orangtua ketika merasa kesal dengan kebiasaan kurang baik yang sering dilakukan anaknya.

“Hati-hati, kedua kata-kata itu ada makna di dalamnya. Di dalam pernyataan “Kamu selalu…” dan “Kamu tidak pernah” adalah label yang bisa melekat selamanya di dalam diri anak,” ujar Jenn Berman PhD, seorang psikoterapis.

Kedua pernyataan yang dilontarkan oleh orang tua tadi akan membentuk kepribadian anak. Anak-anak akan menjadi seperti apa yang dikatakan terhadap dirinya. Lebih baik bertanyalah kepada anak tentang apa yang bisa orangtua lakukan untuk membantu dia mengubah kebiasaannya. Misalnya, ‘Ibu perhatikan kamu sering lupa membawa pulang buku pelajaran ke rumah. Apa yang bisa Ibu bantu supaya kamu ingat untuk membawa bukumu pulang?’. Pernyataan seperti itu akan membuat anak merasa terbantu dan nyaman.

8. Jangan katakan “Bukan begitu caranya, sini biar ibu saja!”
Jangan katakan “Bukan begitu caranya. Sini, biar Ibu saja.” Biasanya orangtua mengeluarkan pernyataan ini jika mereka meminta anak membantu sebuah pekerjaan, namun anak tidak melakukannya dengan benar.

Jenn Berman, PhD memberi saran “Ini sebuah kesalahan, karena anak menjadi tidak belajar bagaimana caranya. Daripada berkata demikian, lebih baik ibu melakukan langkah kolaboratif dengan mengajak anak melakukan pekerjaan itu bersama sambil ibu menjelaskan bagaimana cara melakukannya,”.

Dalam Quranic Parenting terdapat keseimbangan, Al Quran memberikan motivasi dan juga memberikan peringatan dengan kata “jangan” artinya dalam konsep pendidkan Islam pengunaan kata “jangan” dibolehkan. Namun dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Rosul SAW tidak menggunakan kata “jangan” kepada bayi, patokan seorang anak sudah tidak dikatakan bayi lagi adalah saat ia dapat membedakan kanan dan kiri. Hindari labeling anak dengan julukan yang buruk.
  • Rosul SAW ketika melarang selalu memberikan solusi alternatif yang lain, misalnya saat anak anak melempari kurma untuk dimakan yang mengganggu pemilik kebun, Rosulullah berkata “jangan kau timpuk kurma itu, tapi ambillah yang sudah jatuh (matang)”
  • Untuk orang dewasa kata “jangan” saja sudah cukup karena anak yang sudah baligh sudah dapat berfikir sementara untuk anak-anak kata “jangan” harus diiringi dengan penjelasan atau alternatif.
  • Kata “jangan” relevan digunakan untuk hal yang berkaitan dengan akiqah dan adab contohnya “Yaa bunayya laa tusyrik billah… “Laataqrobuzzina… “Laata’luu ‘alallah…” dan seterusnya.
  • Tapi dalam konteks eksplorasi, hindari kata “jangan” secara berlebihan, karena dapat membuat anak kehilangan inisiatif.
  • Sebaiknya orang tua melakukan sosialisasi terlebih dahulu terkait aturan-aturan (yang berbau jangan) atau nilai yang disepakati dalam keluarga, lalu libatkan anak untuk menyepakati aturan tersebut sehinga putra putri kita tahu aturannya dan konsekuensi yang diterima ketika melanggar aturan tersebut.
  • Jangan membiarkan anak bertindak buruk karena jika dibiarkan akan membentuk karakter anak.

Jika Anda suka dengan artikel ini dan merasa bermanfaat, silahkan beritahu teman anda agar tahu serta menyebarkannya lewat media di bawah ini.

“pelangsing